Seorang pemuda anggota UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) sebuah Universitas sering mengeluhkan tentang karir di devisinya. Ia merasakan bahwa setiap kali bekerja, tidak mendapatkan kepuasan. Karirnya sulit naik, hasil yang didapat pun tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Karena itu ia pun sering berpindah-pindah ke sesama UKM di Universitas lain untuk mencari pengalaman dan mengambil ilmu yang baik dari sistem-sistem kegiatan mereka. Ia berharap, dengan cara itu ia bisa memperoleh pengalaman dan pengetahuan yang memberikannnya kepuasan, dari segi karir, maupun hasil kerjanya.
Setelah sekian lama ia berganti mengunjungi dari tempat satu ketempat yang lainnya, bukannya kepuasan yang ia dapat, namun justru sering muncul penyesalan. Setiap kali pergi ke Universitas lain untuk menggeluti UKM yang sedang ia usahakan untuk dikembangkan, ia merasa menjumpai banyak kendala.
Dan begitu seterusnya. Suatu ketika, pemuda itu berjumpa dengan kawan lamanya. Kawan lama itu menduduki posisi ketua di sebuah UKM Universitas yang bisa dikatakan maju. Pemuda itu pun lantas bertanya, bagaimana caranya si kawan bisa mengembangkan UKM dengan waktu yang relative cepat. Tanya si pemuda penasaran. Kawan lamanya itu hanya tersenyum. Ia tahu, si pemuda curiga padanya bahwa posisi dan keberhasilan saat ini dikarenakan faktor koneksi. Aku dekat dengan semua anggota di UKMku. Bahkan, sebenarnya aku berhubungan dekat dengan semua anggota UKM yang ada di Universitas ini, baik dari yang paling bawah sampai paling atas. Kamu curiga ya? Aku bernepotisme karena bisa memajukan sebuak kegiatan mahasiswa dengan waktu yang relatif cepat?" Dengan malu, pemuda itu segera meminta maaf, "Bukan itu maksud aku. Aku sebenarnya kagum dengan kamu. Masih seusia aku, tapi punya prestasi yang luar biasa." Setelah menceritakan keadaannya sendiri, si pemuda kembali bertanya, “Kawan, apa sih sebenarnya rahasia sukses kamu?” Dengan tersenyum bijak si kawan menjawab, "Aku tak punya rahasia apapun. Yang kulakukan adalah mengaktualisasikan diriku atau fokus pada kekuatan yang aku punyai, dan berusaha mengurangi kelemahan-kelemahan yang aku miliki. Itu saja yang kulakukan. Mudahkan?" "Maksudmu bagaimana?" "Aku pun sebenarnya pernah mengalami hal yang sama denganmu, merasa jenuh dengan pekerjaan yang ada dan juga tak bisa naik jabatan. Namun, suatu ketika, aku menemukan bahwa ternyata aku punya kemampuan lebih di bidang pemasaran. Maka, aku pun mencoba untuk fokus di bidang pemasaran. Aku menikmati bertemu dengan banyak orang. Selain itu, aku pun mencoba terus belajar untuk mengusir kejenuhan pada pekerjaan. Dan, inilah yang aku dapatkan.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar